Arab Saudi Berpaling ke Timur

Salam Redaksi Majalah Global Energi Edisi 64logo-blue
Oleh: Dr. Ibrahim Hasyim

ARAB SAUDI BERPALING KE TIMUR

Kedatangan Raja Salman bin Abdul Azis al Saud ke Indonesia telah membuat semua perhatian terfokus pada kunjungan tersebut. Beragam komentar Media dengan beberapa sudut pandang muncul, apa sih tujuan dan manfaat dari kunjungan tersebut. Saya pun ikut di wawancara live oleh radio Trijaya tentang dampak dari kunjungan sang Raja tersebut bagi Indonesia. Tapi secara umum kami sepakat bahwa Arab Saudi sedang berpaling ke Timur.

Adanya perubahan arah pembangunan dari sebelumnya ke Amerika Serikat dan Eropa kini dapat dimengerti, karena banyaknya perkembangan baru disana. Ekonomi Amerika yang protected dimasa Trumph dan ekonomi Eropa yang belum pulih sulit mengharapkan dukungan pada pencapaian Visi 2030 Arab Saudi. Sebaliknya Ekonomi di belahan Timur tetap tumbuh dan terus berkembang bisa memberi harapan. Pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya akan menumbuhkan kebutuhan energi, sesuatu ceruk pasar yang sangat dibutuhkan setelah Amerika Serikat swasembada Migas. Konsumsi minyak di Asia Pasifik masih termasuk tinggi.

Pencapaian Visi 2030 adalah segalanya bagi Saudi. Bayangkan di saat itu penduduknya berjumlah 31,7 juta, tumbuh rata 2,5 % pertahun dan 50 % diantaranya berumur dibawah 25 tahun, dengan harapan hidup 80 tahun, memerlukan pertumbuhan gross product bruto yang bernilai US $ 640 milyar dan penanaman modal langsung senilai US $ 224 milyar. Itulah mengapa Arab Saudi menetapkan visi nya diatas 3 pilar yaitu, pertama sebagai The heart of the Arab and Muslim World, Kedua sebagai an investment Powerhouse , dan ketiga sebagai A hub Connecting Three Continents.

Perjalanan Raja Salman keliling ke Timur saat ini , ke Malaysia, Indonesia, Brunei, Cina , Jepang dan Maladewa, tentu sangat erat dengan sosialisasi dan sekaligus menggali potensi kerjasama yang saling menguntungkan pada semua lini yang ada. Indonesia sendiri sudah menanda tangani 11 buah memorandum of understanding pada berbagai sektor. Lihat saja, pada sektor energi, kerjasama pengembangan kilang minyak di Cilacap akan memberi manfaat timbal balik secara jangka panjang bagi kedua negara. Arab Saudi dapat jaminan memasok minyak mentah, sedangkan Indonesia dapat meningkatkan persediaan BBM dan petrokimia dalam negeri.

Arab Saudi dengan produksi minyak sekitar 10 juta barel perhari dan jumlah ini hanya beda tipis dengan produksi minyak Amerika Serikat dan Rusia, sudah bukan lagi sendiri sebagai produsen terbesar. Dengan harga minyak dunia yang masih rendah karena sulit mengendalikan pasokan, maka kini minyak bumi bukan lagi segalanya dan ini sangat memukul produsen besar. Karena itu, banyak Negara produsen mulai mengembangkan skema bisnis baru bersama mitra strategis Negara lainnya dan itu adalah pilihan yang tersedia saat ini. Karena itu kita harapkan Pemerintah dapat memulai inisiasi baru untuk menangkap berbagai peluang dari kondisi yang sedang turbulen saat ini.

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan