Kepedulian-Komitmen dalam Energi Terbarukan

oleh -
0 17

Salam Redaksi Majalah Global Energi Edisi 55logo-blue
Oleh: Dr. Ibrahim Hasyim

Kepedulian-Komitmen dalam Energi Terbarukan

Banyak pendapat yang mengatakan bahwasanya mengembangkan energi terbarukan di saat harga minyak “jatuh” cukup sulit. Bisa jadi pendapat ini benar adanya. Mengapa? Karena tingkat keefisienan akan dipertanyakan. Menggunakan energi minyak dan gas (migas) di saat harga “murah” seperti sekarang lebih menguntungkan dibanding meggunakan energi terbarukan yang notabene harganya lebih mahal.

Memang tidak salah bila ada pendapat yang demikian itu. Hanya saja, kita harus berfikir ke depan. Minyak kita akan segara habis. Apakah kita akan ketergantungan kepada impor minyak pada masa-masa mendatang. Bila ini yang kita pilih, anggran kita akan terkuras oleh impor minyak tersebut. Karena itu tak ada pilihan lain, kecuali kita mengembangkan energi terbarukan.

Apalagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Konperensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim di Paris, Prancis, pada akhir 2015 juga menjanjikan akan mengembangkan energi baru dan terbarukan, serta memberikan insentif bagi pemanfaatkan sampah menjadi energi. Ddi samping itu, pemanfaatan energi baru dan terbarukan sudah diamanatkan undang-undang (UU) nomor 30 tahun 2007 tentang Energi, dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Sebenarnya, bukan persoalan sulit bagi Indonesia untuk menyediakan sumber energi baru dan terbarukan, karena negeri ini memiliki kekayaan alam berlimpah. Hanya saja, darimana kita memulai mengembangkan energi tersebut. Memang pemerintah sudah mencanangkan dan mempunyai program dalam pengembangan tersebut. Hanya saja, praktik di lapangan masih saja terjadi “perlambatan” yang salah satu sebabnya kurang singkronnya pelaksana di lapangan.

Karena itu dibutuhkan komitmen dari pemerintah untuk melaksanakan berbagai kebijakan yang telah dibuat dengan harapan pengembangan energi terbarukan benar-benar sesuai dengan yang kita harapkan. Di sisi lain, para pengusaha diharapkan mempunyaim kepedulian dalam pengembangan energi ini yang telkah dicanangkan pemerintah.

Caranya? Sebenarnya tidak sulit. Para pengusaha, khususnya kelas atas diminta kepedulaiannya dlam pengemabngan energi ini. Mereka harus diminta untuk berinvestasi di sektor ini dengan harapan pada saatnya mereka itu menikmati keuntungan dari investasi yang saat ini masih penuh “resiko” itu. Kalau pemerintah dan pemilik modal “bersatu kata” dalam pengembangan ini, niscaya kita akan cepat menuju penggunaan energi terbarukan seperti yang diinginkan. Setidaknya 23% penggunaan energi terbarukan pada 2025 mendatang akan tercapai.

Di samping itu, kita juga harus mengambil peran aktif dalam berbagai komunitas energi global. Dengan demikian Indonesia dapat berpartisipasi dan membantu dunia mencari dan menjadi solusi dalam kancah pengembangan energi global dunia.(*)

TERKAIT

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan