Melihat Penyediaan Energi di Turki

oleh -
0 8

Salam Redaksi Majalah Global Energi Edisi 70logo-blue
Oleh: Dr. Ibrahim Hasyim

 

MELIHAT PENYEDIAAN ENERGI DI TURKI

Turki mempropagandakan bagaimana mereka menyiapkan energi nasionalnya sebagai bagian dari strategi mengundang investor untuk menanamkan modalnya disana. Menurut ” the Turkish Perspective “, Turki memasukkan soal energi sebagai persoalan penting dalam tata hubungannya dengan negara Eropa dan non Eropa. Turki memanfaatkan secara baik geographis letak negara nya yang diapit oleh begitu banyak negara produsen di Timur Tengah , Rusia dan negara bekas Rusia dan konsumen besar energi di Eropa Barat. Pertemuan setingkat Menteri dilakukan dengan target agenda yang jelas dan pertemuan kedua terakhir dilakukan pada 28 Januari 2016 di Istambul. Turki adalah lokasi strategis dan menjadi “hub” untuk negara sekelilingnya, pentingnya selat Turki, adanya jalur pipa yang melintasi dan adanya punya cadangan hidrokarbon sendiri, telah memperkuat dirinya bagi kepentingan domestik.

Sekalipun gonjang ganjing politik internal tetap ada disana, tapi pembangunan penyediaan energi nasional secara cukup tetap dilakukan secara konsisten.

Ini tidak lain karena Turki termasuk salah satu negara yang tertinggi pertumbuhan energinya , sejalan dengan pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir dan energi diperkirakan akan terus tumbuh 6 persen pertahun sampai tahun 2023. Setelah berhasil melakukan privatisasi 100 persen di jaringan distribusi dan dalam beberapa tahun kedepan pada pembangkit tenaga listrik, kini posisi energi negara Turki berada pada tingkat struktur yang sangat kompetitif dan terbuka membangun horizon baru bagi pengembangannya.

Pertumbuhan energi telah membuat pendapatan perkapita naik, ditambah dengan pertambahan penduduk dan tingginya tingkat urbanisasi, telah menjadi pendorong utama naiknya kebutuhan energi. Kalau sekarang pembangkit energi terpasang sebesar 74 GW, maka diperkirakan akan terpasang 120 GW di tahun 2023 nanti, guna memenuhi kebutuhan nasional termasuk industri swasta yang sedang dibangun. Dalam upaya untuk bisa terus bisa menawarkan keberlanjutan investasi dan kepercayaan kepada pelanggan, Turki menawarkan insentif seperti ” feed-in-tariffs, purchase guarantees, Connection priorities, license exemptions dan lainnya, tergantung dari tipe dan kapasitas fasilitas pembangkit.

Selama satu dekade terakhir, Turki memang telah melakukan reformasi besar besaran dibilang energi dengan melibatkan partisipasi swasta dan itu telah menciptakan pasar energi yang kompetitif. Privatisasi yang digandingkan dengan strategi yang jelas kepada investasi swasta, telah meningkatkan bagian entitas swasta dari 32 persen di tahun 2002 menjadi 75 persen di tahun 2015. Karena itu, mereka harus mengembangkan ” Energy Stock exchange ” dalam upaya untuk membangun transparansi dan menjaga keseimbangan “supply demand”.

Turki juga membuka policy feed-in-tariffs untuk pengembangan energi terbarukan dan Pemerintah memprioritaskan peningkatan perannya, menjadi penyumbang 30 persen pada penyediaan bauran energi nasional. Teknologi untuk pemanfaatan sampah dan pengurangan emisi , telah menjadi strategi pengembangan energi. Saat ini, sedang dalam proses akhir membuat Undang Undang yang mengatur prinsip penghematan energi, baik itu ditingkat individu maupun korporasi. Kalau itu semua berjalan, maka target di tahun 2023, Turki akan mempunyai kapasitas terpasang energi sebesar 120 GW, yang bersumber dari 20.000 MW tenaga angin, 1.000 MW Geothermal, 5.000 MW tenaga Surya, 5 billion m3 natural gas dan 30 GW batubara. Tentu saja penambahan itu akan diikuti dengan penambahan 60.717 km jaringan transmisi dan tambahan kapasitas tenaga unit distribusi sebesar 158.460 MVA

Itulah gambaran bagaimana Turki membuat itu semua untuk bisa menarik investasi. Indonesia sebenarnya dalam banyak hal telah melakukan itu, yang masih perlu adalah peningkatan kerjasama antar negara yang sudah hampir hilang, memang perlu pelibatan swasta dengan kebijakan insentif yang jelas, taat atas dan saling membutuhkan. Saya tertarik dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, yang begitu menjabat, maka yang dikejar pertama adalah bagaimana membangun ketercukupan energi, sebagai strategi utama untuk bisa mengajak investor masuk ke Aceh. Sesungguhnya hal ini juga berlaku untuk propinsi lain dan tentu saja untuk Indonesia. Maka jadikanlah strategi ketercukupan energi sebagai strategi untuk menarik minat dan datangnya investor di Indonesia. @hasyim_ibrahim

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan