Mencari Titik Keseimbangan Batubara

Salam Redaksi Majalah Global Energi Edisi 61logo-blue
Oleh: Dr. Ibrahim Hasyim

MENCARI TITIK KESEIMBANGAN BARU ?

Penambangan Batubara yang beberapa saat sebelumnya memudar, kini bersinar kembali. Harga perlahan-lahan menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Bahkan harga emas hitam yang sebelumnya terperosok ke harga kisaran 40 dollar AS/ton. Meskipun belum mencapai puncaknya seharga 192 dolar AS di Juli 2008, awal Desember 2016 sudah berhasil menembus kisaran 100 dollar AS. Kenyataan itu kembali memupuk asa kalangan pengusaha.Hanya saja, pengusaha harus hati-hati melihat kenyataan ini. Mengapa? Karena, sentimen kenaikan harga ini disebabkan oleh keputusan China untuk memotong produksi nya agar harga bisa bergerak naik. China bisa melakukan itu karena menguasai 50 persen produksi batubara dunia. Akan tetapi, saat ini pembangkit listrik sudah mulai teriak dan tidak menutup kemungkinan harga akan menukik lagi bila angka produksi tidak bisa dijaga.

Melorotnya harga batubara beberapa waktu lalu terkait dengan supply demand dan jatuhnya harga minyak. Kini, komoditas tersebut beberapa bulan terakhir terus merambat naik. Berdasarkan data yang ada, harga batubara merangkak signifikan hingga di penghujung 2016. Harga Batubara Acuan (HBA) tercatat, Januari mencapai 53,2 dollar AS per ton, November 84,89 dollar AS, bahkan Desember 2016 sudah mencapai kisaran 100 dollar AS. Harga acuan dengan nilai kalori 6.322 kkal/kg itu menjadi acuan penjualan batu bara secara langsung (spot) selama November 2016 pada titik serah penjualan di atas kapal pengangkut (free on board/FOB vessel).

Ditambah lagi, pernyataan BMI Research memperkirakan di periode 2016–2020, produksi batubara global akan turun sekitar 0,2% per tahun. Menurut BMI, penurunan produksi akan terjadi di Indonesia dan Australia, yang merupakan produsen batubara terbesar di dunia selain Tiongkok. Melambatnya pertumbuhan konsumsi batubara dunia, erat kaitannya dengan kesepakatan dunia untuk mulai meninggalkan penggunaan energi fosil, terutama batubara yang besar sumbangannya pada pencemaran udara. Rendahnya produksi juga berkaitan dengan rendahnya harga, dan itu pula yang menyebabkan produksi batubara di Indonesia tahun ini, diprediksi bakal turun 15% dibanding tahun sebelumnya menjadi 314 juta ton. Padahal Indonesia berkepentingan dengan volume produksi batubara yang cukup, karena sampai dengan tahun 2025, peran batubara dalam energymix nasional masih 30 persen.

Dengan membaiknya harga ini, dan apabila kecenderungannya stabil menemukan titik keseimbangan harga baru, sudah pasti akan membangunkan tambang-tambang yang selama tidur, terlebih pada tambang yang selama ini sudah berhasil melakukan upaya efisiensi internal. Perangai naik turunnya harga batubara bukan ditentukan oleh satu negara, apalagi Indonesia yang produksi nya masih terbilang kecil. Harga batubara akan ditentukan oleh faktor dan kecenderungan global, hal yang sama dialami pada pembentukan harga minyak bumi dunia. Tetapi arahnya jelas, masa depan batubara dan minyak bumi akan ditentukan oleh tingkat kompetisi dari waktu ke waktu dengan gas bumi dan energi terbarukan yang terus tumbuh pemakaiannya didunia. Kondisi ini pula yang akan menjadi sandungan besar untuk bisa mengkerek tingkat harga batubara ketingkat seperti dulu.

Apa yang bisa dilakukan para produsen saat ini adalah bentuk peluang yang bersifat jangka pendek. Seperti dilansir Bloomberg, harga batu bara Tiongkok diperkirakan akan terus menguat pada kuartal keempat tahun ini akibat rendahnya jumlah persediaan. Sebelumnya dilaporkan, National Development and Reform Commission (NDRC) meminta para produsen energi dan penambang untuk menandatangani kontrak serta menutup volume di level saat ini demi menghindari pergerakan harga. Tampaknya harga batubara dunia akan sangat tergantung pada kebijakan pengurangan produksi dan konsumsi batu bara oleh Tiongkok, karena negara ini merupakan produsen sekaligus konsumen terbesar didunia. Bukan karena permintaannya yang meningkat, namun karena kebijakan Tiongkok yang ingin hanya memproduksi batubara clean yang tak menimbulkan polusi.

Dimana posisi Indonesia? Produksi batubara Indonesia tahun 2014, menduduki tempat ke 3 setelah Amerika Serikat dan tidak berbeda jauh dengan produksi Australia di tempat ke 4 dan India ke 5. Tetapi jika dilihat dari sudut konsumsi, maka China memakai 46 persen dunia, dilanjutkan Amerika Serikat 13 persen dan India 9 persen. Karena itu sebenarnya, Indonesia dan Australia sebagai eksportir utama dapat berperan untuk mengendalikan sisi supply dengan mencetak kebijakan dan kesepakatan yang mampu menahan laju produksi batubara yang berlebihan, sehingga harga tidak kembali jatuh. Jadi, sekali lagi mencari titik keseimbangan antara produksi dan konsumsi sangatlah diperlukan untuk sebuah kestabilan harga. (*)

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan