Perjalanan di Negara Balkan dan Sekitarnya

oleh -
0 135

Saya memulai perjalanan ini melalui Istambul, singgah 2 malam di Roma dan kemudian meneruskan perjalanan ke 4 negara Balkan yaitu Slovenia, terus ke Croatia, Bosnia dan Serbia. Selepas itu, perjalanan kemudian berlanjut ke negara pecahan Rusia yaitu Bulgaria dan ditutup di Rumania sebagai negara ke 61 yg sampai saat ini sudah saya kunjungi di jagat raya ini.

Mampir sebentar di Istambul, sempat membaca dan melihat bagaimana Turki menjadikan energi sebagai strategi untuk menarik para investor membangun industri di negaranya. Saya akhirnya menulis artikel tentang bagaimana strategi tersebut, sudah ada di majalah Global Energi edisi 70 .. 15 sept/okt.2017 www.global-energi.com.

Kemudian terbang ke Roma, kondisi nya saat ini praktis tidak banyak perubahan dengan lebih dari sepuluhan tahin yang lalu, tetap ramai dengan turis yang melihat gedung dan bangunan bersejarah peninggalan Romawi kuno dan yang lain juga mengunjungi Vatican tempatnya Paus ummat Katolik. Saya sempatkan juga sehari ke Pisa, ternyata menara nya masih tetap miring dan tentu itu bisa bertahan karena ada injeksi teknologi dan manajemen operasinya.

Perjalanan menjadi menarik, karena ini pertama kali mengunjungi ke 4 negara Balkan tersebut yang dulunya adalah provinsi2 di negara Yugoslavia yang komunis, tapi tidak mau tunduk ke Rusia. KekuasaanTito sangat kuat, mampu mempersatukan semua, tapi kemudian kita tahu semua, mereka menjadi cerai berai menjadi negara baru. Negara2 ini memang mempunyai perbedaan dalam banyak hal. Mereka mempunyai bahasa sendiri, kendatipun demikian, generasi muda nya dapat berbahasa inggeris dengan sangat lancar.

Di Slovenia, setelah keliling castle bagus di Lubjliana, menuju ke gua raksasa di Postojna yang didalamnya sangat indah. Negara ini minim sumberdaya alam, namun ekonomi, teknologi dan wisatanya sedang terus berkembang. Masa Tito tetap dikenang termasuk generasi muda, lebih sejahtera, katanya.

Karena negara-negara Balkan pada dimasa lalu adalah wilayah kerajaan Romawi, maka di semua negara ini banyak peninggalan bangunan castle dan gereja. Situs sejarah yg sangat menarik ada di kota indah Dubrovnik dan Split di Croatia. Sulit membayangkan, bagaimana mereka bisa membangun istana dan benteng dari batu2 besar dengan teknologi yg masih sangat minim kala itu. Ingat film serial “Game of thrones” bukan? Sebagian pemotretannya dilakukan di Dubrovnik. Melanjutkan perjalanan menelusuri jalan ke arah Timur mengitari bukit di sepanjang pantai, dibawahnya tergelar hamparan laut dan pulau2 kecil dengan keindahan yang luar biasa. Sampailah di Bosnia Herzegovina yang karena pernah berada dibawah kerajaan Ottoman dari Turki, maka disana dijumpai peninggalan mesjid dan peradaban Islam. Kota Mostar itu sekarang mendapat julukan Palestina nya Eropa, karena setelah berperang habis2an, kini Yahudi, Katholik dan Islam hidup bersama lagi. Di Wilayah Bosnia banyak terlihat gedung penuh tembakan dan bujur kuburan di sepanjang jalan yang berujung sampai ke Sarayevo. Perang antar sesama saudara memang kejam sekali, jarang diujungnya ada yang menang, sehingga akhirnya berdamai dan hidup bersama kembali.

Sekarang kita beralih sebentar bicara soal energi. Croatia beruntung, ada sedikit cadangan minyak dan batubara untuk pembangkit listrik. Pembangkit tenaga angin juga terlihat di puncak bukit sejauh mata memandang. Tapi berbeda dengan Bosnia Herzegovina yang memiliki hutan luas dan air terjun, maka disana hydro power menjadi lebih menonjol. Pada umumnya setiap negara lebih menggunakan sumber energi utama nya sendiri.

Kota Beograd adalah kota yg paling besar di kawasan itu. Dulunya ibukota Yugoslavia. P6enerbangan Air Serbia berpusat disana dan menjadikannya sebagai hub penerbangan di kawasan tersebut, termasuk penerbangan ke Sofia Bulgaria.

Sofia kota bagus khas kota eropa dengan rel kereta api tumpang tindih dengan jalan mobil dan banyak tersedia kuliner global seperti Mc Donald dan Kentucky fried chicken. Begitu juga dengan Bucharest Rumania, yang saya tempuh dengan kereta api, karena ada kelambatan, “ini bukan standar Eropa” katanya. Kawan itu kesal karena lamanya menunggu diperbatasan. Paspor ditahan lama, kereta tidak bisa berangkat, karena harus menunggu datangnya lokomotif pengganti.

Sofia dan Bucharest adalah kota2 indah, penuh peninggalan bangunan arsitek zaman Rumawi dengan segala cerita indahnya dimasa lalu. Rumania lebih dekat dengan Perancis, sedangkan yg lainnya dengan spanyol. Itu terlihat dari bahasa nya dan tak heran di Bucharest ada Triumph de Arc dan Charles de Gaulle Plaza.

Akhirnya saya tutup pahit manis nya 17 hari perjalanan ini, dengan fakta, sekalipun seluruh 6 negara terakhir itu menggunakan visa schengen dan menjadi anggota Uni Eropa, tetapi setiap kali diperbatasan jalan darat tetap harus mengalami pemeriksaan imigrasi, semua menggunakan bahasa sendiri dan yang paling merepotkan, mereka menggunakan mata uang sendiri, kecuali Slovenia yang bisa menerima Uero. Jadi sekalipun bergabungnya dalam Uni Eropa tetapi dalam banyak hal masih sistim sendiri, malahan di Bosnia ada propinsi yang komunitasnya orang Serbia, setuju satu negara, tapi menganut sistim pemerintahan sendiri termasuk beda bendera nya. Itulah cara mereka menyelesaikan perbedaan di sebuah negara yang kepala pemerintahannya bergantian secara bulanan antara Yahudi, Katholik dan Islam. Perang ternyata tidak selalu bisa menyelesaikan perbedaan. @hasyim_ibrahim

TERKAIT

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan