Senja di Kaimana

oleh -
0 101

Barangkali bagi kaum tua, senja di Kaimana diingat dikenang sebagai sebuah lagu indah yang dinyanyikan oleh penyanyi tersohor Alfian. Jika mengikuti lirik lagu itu, maka disana tergambar betapa indahnya  matahari sore, dikala senja dengan warna merah meriah. Warna itu seakan mengecat semua permukaan laut yang terbentang luas terbuka di Kaimana. Permukaan Laut yang dangkal dan lebar hampir satu kilometer menjorok kelaut lepas, dikala air surut menampakkan tanah yang bisa kita jalan jalan diatasnya. Karena itu Pertamina pun harus membuat jalan timbun sepanjang 800 meter ke dermaga tempat pembongkaran BBM dari tanker.

Akan tetapi, kini kemerahan sinar sore itu semakin memudar , tidak se merah dulu, kata masyarakat di pasar. Tidak tahu entah apa sebabnya, padahal itu adalah jualan wisatanya. Namun kerisauan kepudaran sinar matahari itu rupanya tidak terlalu lama menciutkan semangat masyarakat, karena alam disana siap menggelar keajaiban lain yang diberikan Allah yaitu Triton.  Lokasi Triton sebagai wilayah wisata baru,  jaraknya 2 jam perjalanan laut,  suatu lokasi yang disebut sebut ada kemiripan dengan wisata Raja Ampat di Papua Barat. Disana ada pulau pulau kecil dengan kejernihan air dan dasar laut yang indah, sangat menyenangkan untuk “snockling” dan “diving”. Kini senakin banyak wisatawan melirik kesana, katanya ingin melihat keindahan dengan suasana yang lebih alami.

Itulah rupa sebabnya, kota Kaimana kini mulai bersolek, sudah ada  hotel berbintang, landasan bandara mau diperpanjang dan dengar dengarnya penerbangan Garuda sudah ancang ancang mau mendarat disana. Pertamina pun sebagai penyedia bahan bakar minyak (BBM), sudah lebih awal siap dengan penyediaan  BBM dan pengisian Avtur untuk bahan bakar pesawat udara untuk yang berbadan lebar sekalipun.

Tampaknya Kaimana sebagai kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten FakFak, akan membangun perekonomian daerahnya melalui wisata. Konektivitas udara dan laut sudah terbuka lebar, karena akan didarati beberapa penerbangan dan disinggahi angkutan pelni dan perintis.

Apa yang belum cukup siap, agaknya adalah penyiapansumber daya manusia lokal, yang masih belum paham akan akan liku bisnis wisata, apalagi punya cita rasa wisata. Karena itu, kita bisa jadi terheran heran , kenapa lokasi tempat perahu penyeberangan ke pulau2 yang begitu indah, dengan air jernih, apalagi di disinari matahari seakan perahu ditaruh diatasnya, terlihat biasa2 saja bagi masyarakat setempat. Padahal lokasi seperti itu yang berjarak dekat dari kota,  bagi pembisnis wisata pasti bisa disulap menarik untuk meraup uang. @hasyim_ibrahim

BELUM ADA TANGGAPAN

Tulis Tanggapan